CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »
Tampilkan postingan dengan label College World. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label College World. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2010

TraDisi ILmiAh

Tradisi ilmiah, adalah dua buah kata yang selalu terucap, tersemat, terpampang dalam slide ketika saya mengikuti kuliah jam pertama di hari kamis. Cukup menarik juga untuk diamati tentang apa yang terjadi dengan tradisi ilmiah bangsa Indonesia. Bangsa kita adalah bangsa yang tertinggal dalam pendidikan, apalagi dalam hal-hal yang berbau ilmiah, jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Mengapa begitu? Tentu jawabannya adalah subyektif. Pertanyaan semacam ini tidak memiliki jawaban pasti bagi setiap orang. Terlepas dari apa yang ditanyakan (dan dengan sedikit “peduli” pada jawaban pertanyaan ini), sebenarnya yang perlu kita cari tahu adalah alasan mengapa tradisi ilmiah bangsa kita begitu buruk.
Fakta membuktikan bahwa dari 2,6 juta guru di Indonesia, untuk guru golongan IVB hanya 0,87 persen, guru golongan IVC 0,07 persen, dan golongan IVD 0,02 persen. Kenapa harus guru yang menjadi acuan??? Karena ada ungkapan “untuk menghasilkan murid yang hebat, diperlukan guru yang hebat”. Secara pribadi, guru yang sukses menurut saya adalah guru yang bisa menghasilkan murid yang lebih pandai dan lebih sukses dari gurunya. Nalarnya tentu saja mudah, bagaimana seorang murid bisa pandai jika gurunya saja tidak pandai???? Mau tidak mau, dan diakui atau tidak, gurulah yang “ikut” menentukan sukses tidaknya seorang murid. Jika tidak begitu, untuk apa ada sekolah, untuk apa ada guru, untuk apa ada kuliah, untuk apa ada dosen? Harus kita ingat bahwa masa depan bangsa Indonesia ada pada tunas-tunas yang masih duduk di bangku sekolah dan kuliah.
Nah, salah satu budaya memprihatinkan di masa-masa dunia pendidikan sekarang adalah sistem pendidikan satu arah yang diterapkan guru dan dosen (centralized teaching). Guru adalah segala pusat ilmu pengetahuan, atau dengan Istilah Paulo Freire, salah seorang tokoh pendidikan Brazil, “The banking concept”, di mana anak didik hanya dianggap sebagai bejana kosong yang harus diisi yang semuanya oleh dan dari dosen. Kebanyakan para murid hanya mencatat, mengulangi apa yang diucapkan oleh gurunya, menghafal, dan juga menerima mentah-mentah setiap hal yang diberikan oleh sang guru (terkadang tanpa ditelaah makna dan arti dari materi yang diajarkan). Hal ini bisa secara bertahap menimbulkan kebekuan berfikir bagi para murid. Inilah yang disebut Freire tenggelam dalam kebudayaan bisu (the culture of silence). Murid yang sebenarnya pandai aktif juga terkadang merasa “ogah” bila harus diajar dengan guru yang suka memasang wajah-wajah killer, suka membodoh-bodohkan, dan berbagai hal absurd lainnya. Selain itu, pola pembelajaran centralized teaching dapat menyebabkan suatu “kemandulan” berpikir. Para murid yang seharusnya merupakan subyek pembelajaran, berubah menjadi sebuah objek pembelajaran dengan sistem yang seperti ini. Guru berada di kelas dengan jiwa “father knows best”. Guru tahu segalanya dan murid tidak tahu apa-apa. Guru tidak bisa salah dan sebaliknya murid selalu salah. Imajinasi, inovasi, dan kreativitas para murid tidak akan berkembang karena yang biasa (dan selalu) dilakukan para murid hanyalah menghafal. Dampaknya tentu saja adalah suatu “budaya mengekor”. Mereka tidak dididik untuk berkembang, kreativitas mereka mati dengan pola pembelajaran seperti ini. Dan yang paling parah, selamanya para murid tidak akan bisa mandiri jika terus-menerus diterapkan centralized teaching oleh sang guru. Mengutip apa yang sering diajarkan kakek saya, kebiasaan akan berubah menjadi watak. Kebiasaan-kebiasaan yang mungkin bagi sang guru tidak bisa disebut buruk, tetapi secara perlahan telah “membunuh kreativitas” dan akhirnya tetap “menyesatkan” pola pikir ilmiah sang murid.

Berbicara mengenai tradisi ilmiah (dan memang itulah yang menjadi tema dari tulisan ini), tidak bisa lepas dari apa yang disebut dengan membaca. Membaca adalah langkah awal dalam memelihara dan mengembangkan tradisi ilmiah dalam diri seseorang maupun sebuah komunitas. Ia menjadi gerbang antara ketidaktahuan (ignorance) dan kejelasan (clarity) mengenai berbagai hal. Tengoklah, dalam sehari kita hidup (24 jam) berapa banyak waktu yang diluangkan untuk membaca? Berapa banyak buku yang kita miliki di ruang baca rumah kita? Berapa uang yang biasa kita alokasikan untuk membeli buku-buku berkualitas? Sebagai perbandingan, dapat kita cari contoh yangt sangat sederhana, dan sangat real di dunia mahasiswa. Berapa lama kita “bersentuh-sentuhan” dengan handphone dalam satu hari hidup kita? Berapa banyak uang yang kita gunakan untuk membeli pulsa setiap bulan, bahkan setiap minggunya? Satu kata yang paling tepat setelah kita bandingkan keduanya adalah TRAGIS. Dengan tradisi ilmiah yang masih rendah (dan tetap minim sekali niat untuk mengembangkannya), para mahasiswa telah diperbudak dengan apa yang disebut handphone. Manusia masih bisa hidup tanpa buku, tapi tidak dapat hidup bila tidak ada handphone. Mind-set seperti itulah yang kini (benar-benar!) terpatri. Fakta di atas menunjukkan minat baca yang memang sangatlah rendah. Dan fakta di atas juga menggugurkan alasan bahwa buku-buku itu mahal untuk dibeli, tidak jarang harganya mencapai ratusan ribu rupiah (bagaimana dengan harga pulsa???). Dan memang alokasi dana untuk membaca sangatlah tidak sepadan jika dibandingkan dengan alokasi dana untuk mengisi pulsa handphone tercinta. Keberadaan perpustakaan yang notabene memberikan suatu “ilmu gratis” juga tidak dimanfaatkan. Buku-buku yang berjajar rapi di perpustakaan, menanti seseorang untuk membuka dan membacanya, lebih sering teronggok di tempat. Tengoklah tanggal pinjam yang sering tertera di bagian belakang buku. Terkadang mencapai 6 bulan, bahkan ada pula yang sampai bertahun-tahun. Interval-interval yang termuat di sana menunjukkan bahwa buku-buku di perpustakaan memang lebih banyak menganggur di tempat, daripada dibaca oleh para mahasiswa untuk mengisi waktu luangnya saat tidak sedang kuliah. Membaca adalah suatu investasi, yang mendekatkan kita langkah per langkah menuju pengetahuan dari dunia yang luas ini. Sekali minat baca rendah (dan memang hal inilah yang menjadi fondasi dalam tradisi ilmiah), niscaya tradisi ilmiah akan berangsur memudar (jika tidak mau kita sebut lenyap).
Kembali ke masa kanak-kanak kita, apa yang bisa kita lakukan dan pelajari kemudian setelah belajar membaca? Jawaban yang bisa kita ketahui dengan mudahnya jika kita berkunjung dan melihat ke taman kanak-kanak adalah menulis. Garis tegas yang membedakan antara masa prasejarah dengan sejarah adalah masa penggunaan tulisan. Melalui tulisan, manusia mengenal dan mengkaji kejadian, sejarah serta mendokumentasikan perkembangan peradaban suatu entitas maupun komunitas tertentu, dengan presisi yang lebih dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Kadang kala kita begitu lancar dalam mengungkapkan sesuatu, tapi mendadak lesu seketika jika harus menuangkan gagasan kita ke dalam bentuk tulisan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan komunikasi verbal, karena memang tidak setiap saat kita bisa berjumpa dengan orang-orang yang kita inginkan. Terlebih komunikassi verbal (mau tidak mau) juga sangat bergantung pada yang namanya ingatan (memory). Apa yang kita tuliskan juga dapat menjadi suatu rujukan ilmiah, dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Menulis adalah langkah kedua yang amat menentukan dalam pewarisan tradisi ilmiah. Budaya menulis sesungguhnya adalah suatu kebiasaan baik (good habit) yang bisa dikondisikan dan ditumbuhkan. Akan sangat indah jika para guru dan dosen membiasakan murid dan mahasiswa mereka untuk menulis, tapi dengan suatu rangsangan ilmiah tertentu. Misalnya penulisan suatu artikel (karangan pribadi, atau referensi jurnal) untuk dijadikan suatu tugas (bahkan terkadang tulisan itu harus bisa dimuat di media massa) dan memberikan penambahan nilai bagi para mahasiswa. Dengan tugas-tugas semacam ini otak mahasiswa akan dipacu untuk berkreasi, berpikir lebih, dan berusaha menghasilkan suatu tulisan yang berkualitas. Dengan sistem tugas yang diberikan dengan diharuskan membaca referensi jurnal, secara tidak langsung para mahasiswa akan membaca jurnal-jurnal yang ada. Dan kita tidak lupa, seperti yang telah tertera di atas bahwa membaca merupakan langkah paling awal untuk mengembangkan tradisi ilmiah. Pemberian tugas semacam ini benar-benar bermanfaat bagi para mahasiswa ke depannya. Mereka tidak hanya biasa mencatat materi yang dituliskan di papan tulis, mengopy slide para dosen, dan mencetak handout. Dengan pemberian tugas menulis semacam ini, kreativitas akan tetap hidup dan budaya tulis-menulis akan tumbuh subur (sama halnya dengan apa yang tengah saya lakukan sekarang). Pembentukan komunitas-komunitas penulis juga akan mempercepat pengembangan budaya menulis ini. Melalui komunitas ini, arus informasi dan pertukaran pengalaman menulis diantara anggotanya bisa berlangsung dengan baik.Sehingga peningkatan kemampuan dan produktifitas diantara mereka akan berjalan secara konsisten. Kendala yang menghalangi budaya menulis tulisan ilmiah di ranah Indonesia ini adalah susahnya mendapatkan referensi. Akhirnya hal ini dapat “diakali” seperti pada langkah awal tadi, suatu tempat yang disebut perpustakaan. Tidak perlu keluar uang banyak untuk mencari ilmu. Selain itu, kurangnya rangsangan dari luar juga menghambat tumbuhnya budaya menulis, antara lain kurangnya apresiasi secara materil bagi para penulis di Indonesia. Para penulis mendapatkan insentif yang relatif kurang memadai ketika karya-karya mereka diterbitkan dalam suatu media massa.Nilai materiil yang sedikit inilah yang juga menyurutkan niat untuk menulis, dan mengirimkannya ke media massa. Tidak sesuai antara honor yang diterima dengan waktu dan pikiran yang terbuang jika mau dibandingkan.
Berbicara mengenai tulis-menulis, akan saya suguhkan kembali apa yang ada di dunia perkuliahan. Penulisan karya ilmiah adalah suatu kegiatan dalam dunia perkuliahan. Dan hebatnya, angka penulisan karya ilmiah yang dipublikasikan pun masih sangat rendah. Jumlah publikasi ilmiah nasional dosen sebanyak enam persen, sedangkan publikasi ilmiah internasional dosen 0,2 persen. Salah satu buah dari tradisi ilmiah adalah karya ilmiah. Tradisi ilmiah yang telah dikembangkan diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas bagi Indonesia (dan juga diharapkan bagi dunia). Terlebih bagi kita, mahasiswa dan dosen yang bergerak dan berkecimpung di dunia sains, akan sangat banyak penelitian yang bisa kita lakukan untuk kemudian dipublikasikan. Jauh lebih banyak dari orang-orang yang berkutat di bidang sosial, karena penemuan-penemuan ilmiah baru dapat muncul (baca : dibuat) setiap saat. Namun tetap saja tradisi ilmiah tetap perlu diterapkan dalam penelitian-penelitian ilmiah semacam ini. Perlu suatu penghargaan dan apresiasi bagi penelitian-penelitian ilmiah. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana kasus (pembunuhan?) David Haryanto, mahasiswa NTU asal Indonesia. Penelitian-penelitian ilmiah seperti yang David lakukan selayaknya terus di-support, bukan berakhir tragis seperti apa yang dialami David. Dan untungnya di Indonesia (sejauh ini yang saya ketahui) belum ada kasus yang seperti dialami David.
Sebelum arah tulisan semakin bergeser dan menyimpang dari topik semula (karena saya pun muak dengan urusan kriminalisme), mari dikembalikan lagi ke jalan yang benar. Tulisan juga merupakan suatu indikator sukses tidaknya seseorang. Seseorang yang sukses biasanya banyak menulis jurnal, artikel-artikel ilmiah, dan membuat berbagai publikasi lainnya. Namun tulisan-tulisan ini selayaknya dibuat dengan cara yang benar, dengan cara yang ilmiah pula. Hipotesis, eksperimen, dan kesimpulan akhir adalah jalur yang tepat bagi kaum ilmiah. Tulisan yang dibuat berdasarkan eksperimen. Bukan hanya tulisan copy paste, ataupun eksperimen palsu. Tulisan-tulisan ini juga bukan tulisan yang dibuat orang lain, dan kemudian (dengan ancaman, kekuasaan, uang, atau apalah namanya) diambil hak publikasinya oleh dosen. Seorang guru bisa saja meninggal dunia suatu saat nanti, tetapi tulisannya akan terus mengajar sampai kiamat nanti. Seperti apa yang diutarakan oleh Francois Bacon : “Reading makes a full man, conference makes a ready man, and writing makes an exact man”.Karena itulah, diperlukan suatu dasar tradisi ilmiah yang kuat (dan tidak tercemar oleh nilai-nilai kecurangan) untuk menghasilkan suatu publikasi yang berkualitas. Karena dasar dari negara kita adalah Pancasila, sudah selayaknya kita tetap mengikuti dan berpegang pada Pancasila. Hakikat suatu penelitian jika dihubungkan dengan Pancasila, penelitian adalah suatu kegiatan telaah yang taat kaidah, bersifat obyektif dalam upaya untuk menemukan kebenaran dan menyelesaikan masalah dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. Dalam suatu kegiatan penelitian seluruh unsur dalam penelitian senantiasa mendasarkan pada suatu paradigma tertentu, baik permasalahan, hipotesis, landasan teori maupun metode yang dikembangkannya. Dalam khasanah ilmu pengetahuan terdapat berbagai macam bidang ilmu Pengetahuan yang masing-masing memiliki karakteristik sendiri-sendiri, karena paradigma yang berbeda. Bahkan dalam suatu bidang ilmu terutama ilmu sosial, Antropologi dan politik terdapat beberapa pendekatan dengan paradigma yang berbeda, misalnya pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Dasar-dasar nilai dalam Pancasila menjiwai moral peneliti sehingga suatu penelitian harus bersifat obyektif dan ilmiah. Seorang peneliti harus berpegangan pada moral kejujuran yang bersumber pada ketuhanan dan kemanusiaan. Suatu hasil penelitian tidak boleh karena motivasi uang, kekuasaan, ambisi atau bahkan kepentingan primordial tertentu. Selain itu asas manfaat penelitian harus demi kesejahteraan umat manusia, sehingga dengan demikian suatu kegiatan penelitian senantiasa harus diperhitungkan manfaatnya bagi masyarakat luas serta peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan. Artinya adalah bahwa Tradisi ilmiah (dan juga buah-buah yang dihasilkan) tidak boleh lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Sebagai makhluk Tuhan yang memiliki tradisi ilmiah yang berjiwa Pancasila, mari kita simak ciri-ciri yang menonjol dari tradisi ilmiah :
1.Berbicara atau bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan.
2.Tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik dan akurat.
3.Selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan.
4.Mendengar lebih banyak daripada berbicara.
5.Gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu.
6.Lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian.
7.Selalu mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, objektif, dan proporsional.
8.Gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana dan ide-ide, tapi tidak suka berdebat kusir.
9.Berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kekenangan.
10.Berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional dan meledak-ledak.
11.Berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur.
12.Tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin belajar.
13.Menyenangi hal-hal yang baru dan menikmati tantangan serta perubahan.
14.Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan
15.Lapang dada dan toleran dalam perbedaan.
16.Memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan orang lain dan senantiasa menguji kebenaran.
17.Selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara produktif.

Apa yang terlihat pada ciri-ciri itu adalah nuansa yang kuat tentang keyakinan, kepastian, fleksibilitas, dinamika, pertumbuhan, kemerdekaan, kebebasan, dan keakraban. Mereka yang hidup dalam sebuah komunitas dengan tradisi ilmiah yang kokoh meraskan kemandirian, aktualisasi diri, kebebasan, kemerdekaan, tapi juga menikmati perbedaan, tantangan, dan segala hal yang baru. Mereka juga telah menelusuri detail dan kerumitan, sabar dalam ketidakpastian, dingin dalam kegaduhan, tapi sangat percaya diri dalam mengambil keputusan.

Reeeaaaddd Mooorrreee ^_^/......

Sabtu, 16 Januari 2010

Made Diah Fahmarani

UAS selesai,saatnya pulang kampung...!!!!!!!
Begitulah yang ada di pikiranku, pingin cepet2 pulang kampung, udah pingin cepet seneng2. Tapi ternyata apa? Owh Shit,,nilaiku ancur!!!Deg-degan juga nih, kok IP-ku bisa ancur gini ya?Berjuta perasaan menyelimuti perasaanku. Rasanya malu, gag enak ma ortu yang udah susah2 mbiayain, ngerasa kurang belajar, merasa bodoh, dan lain2.
Well, karena itu Q berencana secepatnya "curhat" tentang masalah UAS di blog ini. Pingin melampiaskan semua unek-unek. Tapi ternyata semua berubah....

Jumat, 15 Januari 2010

Hari yang melelahkan telah berakhir, kehujanan di jalan, makan cuma satu kali, cuma ada satu kata... *FUCK!* Gara-gara ini tidur siang yang terlalu sore, malamnya jadi susah bobo deh. Sms ke anak-anak. Kagak ada yg bales (pada tepar kali ya). Iseng gag ada kerjaan, masih meratapi nilai UAS (terutama kalkulus), sms Made ah. Temanku yang sama2 dapet *FUCK!* di kalkulus. Juga kagak dibales.
Asemb Asemb Asemb...................!!!!!!!!!
Setelah mendengarkan dreamland, akhirnya Q tertidur...

Sabtu, 16 Januari 2010
Pagi-pagi nan dingin jam 5 pagi lebih berapa puluh menit noh Q bangun karena si soner bergetar-getar di lantai. Ada 2 sms masuk. Yang pertama dari ika yang lagi liburan di wates, yang menyatakan bahwa yang bersangkutan semalam sudah terkulai di kasur, sehingga nggak mbales sms ku. Sudah kuduga.
Yang kedua dari Made, ini nih partner kalkulusku (sama2 gag ngarti). Tapi apa, baca sms dari Made bikin mataku terbuka lebar, setengah gag percaya, gini dia nulis :

"bwd t
emen2 makasi iia bantuanny slama ini,,aq uda g ikud smstr2 bsug,,klo kmren ada salah2 tlg dimaapin yah =] NB : sug tak kndani ip ku piro,jo kuatir mbang,hhe"

What the FUCK!!!
Kenapa ini anak??Apa nyerah gitu aja gara si kalkulus sialan itu???Q usut beritanya, Q cari tahu kenapa. N akhirnya Q tahu kalo Made keluar dari UGM, pindah ke Magelang, katanya dapet kerja di sana. Q sih ya masih agak gimana gitu. Seorang Made, anak sulung dari Bambang Family, kakak tertua buat aku, Nanda, dan Prames, mau colut dari nih kimia???.........
Samar-samar Q inget gimana pertama kali kenal ma Made, biasa ngantin rame2, nggosip hal2 gag jelas juga, sama2 menatap layar kalkulus dengan tatapan kosong, and so on. Made orangnya asyik, nyambung kalo diajak ngobrol. Kalo Nanda gi mbojo ma Sigit ya aQ yg kedapetan nemenin Made. Emang Q ma Made gag ada hubungan spesial apa2, tapi yg namanya kehilangan temen kan rasanya gag enak aja. Baru 1 semester temenan, dy mau pergi ke Magelang. Mana dadakan lagi
pamitnya. Oh Dear.........
Nggak tahu deh musti nulis apa lagi... Mau gimana lagi, mungkin uda keputusan dia. Nggak baik juga terlalu ikut campur hidup orang lain.
Buat Made, moga sukses terus ya dimanapun kamu berada
. Amin.

Selamat jalan kawand, sampai jumpa di lain waktu dan kesempatan.....


Reeeaaaddd Mooorrreee ^_^/......

Jumat, 18 Desember 2009

Warnet Mesum (19-12-2009)

PENDAHULUAN
Internet adalah salah satu sarana penunjang kesuksesan di dalam kehidupan remaja, baik pelajar maupun mahasiswa di masa sekarang. Segala info yang dibutuhkan dapat dicari di dalam internet. Namun tidak semua remaja memiliki jaringan internet di rumah atau kos. Karena itu, keberaadaan warung internet mutlak diperlukan sebagai antisipasinya. Karena memang tidak mungkin para remaja mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan tanpa mencari referensi dari internet. Dan dapat dikatakan bahwa internet sudah menjadi “kebutuhan pokok”bagi para remaja.
Namun, tidak semua yang dilakukan di warnet adalah hal positif. Sebagian remaja memang menggunakan warnet untuk mencari ilmu dan info. Tapi tidak jarang pula ada yang membuka situs-situs negatif, atau yang lebih dikenal sebagai situs porno, terutama bagi remaja pria. Tidak sedikit yang memang sengaja menggunakan warnet untuk mengakses situs porno, atau membuka situs porno sebagai “sambilan” mengerjakan tugas-tugas. Sebagian berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan adalah normal, mengingat mereka masih dalam proses pendewasaan diri. Tapi tetap lebih banyak orang yang berpendapat bahwa perbuatan tersebut sudah termasuk perbuatan tercela dan dosa.
Terlepas dari situs porno yang sampai sekarang masih sering diakses para remaja, muncul suatu fenomena baru yang berhubungan dengan pacaran dan warnet. Remaja sekarang biasa menggunakan warnet sebagai “arena” berpacaran. Apa yang dilakukan remaja-remaja tersebut bisa hanya merupakan hal minimalis, ataupun sudah mencapai taraf pacaran yang bisa dikatakan ekstrim dan belum layak dilakukan di masa pacaran. Karena itu, muncul istilah warnet mesum, yaitu warnet yang tempatnya bisa dikatakan strategis untuk berpacaran dan berbuat mesum.
Tema ini dipilih dengan pertimbangan bahwa warnet mesum adalah suatu fenomena baru dalam kehidupan muda-mudi sekarang ini. Fenomena ini seakan-akan sudah menunjukan bahwa kaum muda-mudi sekarang ini sudah sangat terpengaruh oleh gaya hidup seks bebas sehingga menunjukan betapa bobroknya moral kaum kawula muda kita. Hal inilah yang mengilhami kita untuk menulis sebuah analisis dari tindakan mesum di warnet sebagai bagian dari tugas mata kuliah agama.  



ANALISIS KASUS

1. Who
Pada umumnya yang melakukan perbuatan mesum di warnet adalah pasangan remaja. Dimulai dari siswa SMP, siswa SMA, dan tentu saja mahasiswa. Jarang ada pasangan “tua” yang melakukan tindakan mesum di warnet. Memang secara umum, mereka yang melakukan perbuatan mesum di dalam warnet adalah mereka yang statusnya berpacaran, tapi juga ada muda-mudi yang tidak menjalin hubungan pacaran yang melakukan perbuatan ini.

Pelaku utama dari kasus ini adalah pasangan muda-mudi yang sedang bersama, kenapa? Karena pasangan yang sudah tua atau dengan kata lain om-om atau tante-tante, sudah pasti sudah memiliki uang atau setidaknya memiiki rumah sendiri, jadi tindakan mesum mereka tidak akan ditempatkan di warnet, pasti di rumah mereka masing-masing atau setidaknya jika mereka berselingkuh luar rumah tidak akan sampai melakukannya di warnet setidaknya di hotel-hotel atau motel-motel. Sehingga pelaku utama seharusnya adalah kaum muda-mudi yang belum mapan secara ekonomi.

2. Where
Sesuai dengan judulnya, tindakan mesum ini biasa dilakukan di warnet. Warnet yang mendukung “kesuksesan” perbuatan ini adalah warnet yang memiliki bilik tertutup. Biasanya bilik ini tinggi, tidak dapat dilihat dari luar, bahkan ada yang bisa dikunci dari dalam. Ada juga warnet yang menyediakan kasur di dalam bilik.

Kenapa warnet sebagai tempat untuk melakukan sebuah tindakan mesum? Itu disebabkan oleh murahnya tarif ‘kamar’ pada warnet dalam satu jam. Karena murahnya itu, pelaku utama yang seringkali tidak memiliki uang untuk menyewa kamar warnet atau takut melakukannya di rumah karena ada orang tua mereka, pelaku akan memakai jasa warnet sebagai tempat untuk melakukan sebuah tindakan mesum. Bila untuk berbuat mesum di hotel membutuhkan dana sampai ratusan ribu rupiah, maka untuk berbuat mesum di warnet hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar 3000-5000 rupiah tiap jamnya. Hal ini juga mendorong kaum remaja berbuat mesum di warnet, karena lebih menguntungkan mereka secara ekonomi/


3. When
Perbuatan mesum di warnet sebenarnya bisa dilakukan kapan saja mengingat saat ini hampir semua warnet buka 24 jam. Memang ada yang melakukan perbuatan mesum ini di malam hari, saat suasana sudah sepi. Tapi kebanyakan pelajar justru melakukan perbuatan seperti ini di waktu siang atau sore hari. Hal ini dikarenakan kebanyakan tidak boleh keluar malam dan juga bila berada di warnet saat siang atau sore tidak akan terlihat mencolok walaupun sedang berduaan di dalam bilik. Memang butuh keberanian lebih bila melakukan di saat siang atau sore. Tetapi jika kondisi bilik cukup tertutup, hal ini tetap bisa dilakukan.


4. Why
Alasan melakukan perbuatan ini tentu saja adalah karena mereka tidak mampu bertahan dari godaan setan. Sehingga mereka tidak bisa menahan hawa nafsu. Ada yang melakukan perbuatan mesum di warnet memang sudah direncanakan sebelumnya sebelum berangkat di warnet, ada juga yang baru terpikir untuk melakukan perbuatan mesum setelah berada di dalam bilik. Bagi yang baru berniat melakukan perbuatan mesum setelah di dalam warnet, niat ini bisa timbul karena mereka mulai saling melakukan kontak fisik.

Mulai dari berpegangan tangan dan merangkul pasangan, tapi kemudian terpikir niat untuk lebih. Ada juga yang menjadi bernafsu dan kemudian berbuat mesum setelah melihat situs porno di dalam bilik dengan pasangannya, sehingga adrenalin mereka terpacu dan menjadi bernafsu untuk mencobanya. Situasi bilik warnet yang tertutup serta rasa ketidakpedulian penjaga warnet ikut mendorong keinginan dan kelancaran mereka untuk melakukan tindakan mesum.




5. What
Banyak hal yang bisa dilakukan pasangan mesum di bilik warnet. Mereka bisa hanya melakukan hal yang simpel, sampai hal yang ekstrim. Hal ini bisa dilakukan saat mereka sudah tidak bisa berpikir dengan jernih dan pikiran mereka sudah dikuasai oleh nafsu. Tindakan yang bisa dilakukan pasangan mesum antara lain :
- Saling berpegangan tangan
- Merangkul pasangan
- Membelai pasangan
- Berpelukan
- Mencium pipi pasangan
- Mencium bibir pasangan (hingga melakukan french kiss)
- Memberikan “cupang”
- Meraba dan bermain-main di bagian sensitif pasangan mereka, bisa di payudara ataupun alat kelamin pasangan
- Melakukan oral seks
- Bersetubuh, walaupun mungkin hanya bisa sebentar
 
HASIL LIPUTAN
Kami sudah mendapatkan seorang narasumber yang mengaku sudah pernah melakukan perbuatan mesum di warnet, sebut saja dia Kumbang (bukan nama sesungguhnya). Kumbang melakukan perbuatan ini ketika dia duduk di bangku SMA. Dia sebenarnya biasa melakukan hal-hal mesum tidak hanya di warnet, tapi di semua tempat yang sekiranya mendukung untuk melakukan hal mesum. Untuk melakukan hal mesum di warnet, ia biasa menjemput pacarnya, Bunga (bukan nama sesungguhnya). Tidak jarang mereke ke warnet bersama-sama. Namun dalam setiap kunjungan ke warnet, tidak selalu berbuat mesum. Kadang kala hanya browsing, chatting, mencari tugas, dan sebagainya.
Niat untuk berbuat mesum kadang muncul kadang tidak. Kumbang menjelaskan bahwa ia berbuat mesum tidak hanya di satu warnet itu-itu terus, tapi beberapa warnet pun pernah ia coba. Situasi bilik warnet yang mendukung menurut dia adalah bilik yang cukup tertutup, tinggi, dan biasanya berada di pojok warnet, dimana jarang orang lewat. Namun kebanyakan Kumbang juga sudah mengenal akrab operator-operator warnet yang ia kunjungi.
Kumbang menuturkan ia dan Bunga biasa berbuat mesum di warnet. Kadang kala hanya berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, bahkan lebih. Kumbang tidak takut ketahuan karena pada saat itu biasanya sudah kepalang nafsu, sehinga sayang untuk dihentikan. Kumbang juga berani melakukan hal tersebut karena Bunga juga tidak menolak, jadi bisa diistilahkan tidak ada pihak yang dirugikan. Jika kondisi warnet mendukung, Kumbang bisa berbuat mesum sampai tingkat bermain-main payudara Bunga. Kumbang mengaku juga sempat merekam perbuatannya bermain-main payudara Bunga dengan menggunakan handphonenya. Ia tidak menyebarkan video tersebut, hanya untuk dokumentasi pribadi.
Saat ini Kumbang mengaku bahwa ia sudah berusaha bertobat. Ia sudah berusaha menghindari hal-hal tersebut karena timbul niat untuk meninggalkan hal-hal duniawi. Langkah yang ia tempuh adalah dengan sebisa mungkin tidak bergaul dengan wanita-wanita yang perilakunya tidak baik dan juga mengurangi membuka situs-situs porno.
Kumbang berpesan bagi para remaja agar tidak mengikuti nafsu belaka, tapi juga dipikirkan akibat yang ditimbulkan dari perbuatan yang dilakukan.
 
Pendapat umum
Yosaphat Novi Hartanto

“Pada dasarnya saya tidak setuju dengan adanya warnet mesum, karena tidak sesuai dengan norma asusila dan norma agama. Selain itu juga dapat mempercepat penyebaran virus HIV, AIDS, sipilis, dll. Bagi pihak warnet seharusnya menyediakan bilik yang tidak tinggi atau menitupi semua ruang dalam bilik, sehingga pemilik dapat mengontrol dan menjaga keamanan. Untuk pengaksesan dibatasi seperti pemblokiran situs-situs porno. Karena jika ketahuan akan menjadi masalah besar, kita tahu hukum kita tidak hanya hukum yang tertulis saja. tetapi masih berlaku hukum masyarakat yang begitu ketat.”

Peri Indrianto

“Seharusnya warnet bukan seperti itu dan di Indonesia seharusnya untuk warnet seperti itu sistem keamanannya perlu ditingkatkan, seperti dipasang hidden camera karena di luar negeri sudah seperti itu (keadaannya). Selain itu, di masyarakat perlu dibuat hukum yang mengikat agar tidak terjadi kejadian mesum ini, seperti di desa-desa kecil, tindakan semacam ini akan langsung dinikahkan, jadi jikalau warga mengetahui entang ini, akan langsung dinikahkan.”
 
DAMPAK YANG DITIMBULKAN
Perbuatan mesum di warnet memiliki dampak-dampak. Dampak ini berupa dampak positif dan negatif. Dampak ini ditujukan pada pelaku dan warnet(pemilik warnet).
-Dampak positif bagi warnet
Dengan menyediakan tempat yang mendukung untuk berbuat mesum, secara tidak langsung tentunya warnet akan sering dikunjungi orang-orang yang mesum, sehingga pendapatan mereka akan bertambah. Kebanyakan warnet tidak peduli apa saja yang terjadi (termasuk perbuatan mesum di dalam bilik) selama pendapatan mereka mengalir dengan lancar. Jika memang mereka peduli terhadap kemesuman yang terjadi di warnet mereka, mereka tidak akan menciptakan warnet dengan bilik tertutup yang bisa mendukung terjadinya perbuatan mesum.
-Dampak positif bagi pelaku
Sebenarnya, hampir tidak ada dampak positif dari melakukan perbuatan mesum di warnet. Hanya saja, ada yang menganggap dengan melakukan tindakan ini mereka bisa menjadi lebih dekat dengan pasangan mereka, tetapi sebenarnya argumen ini tidak tepat. Memang bagi pelaku mereka mendapat “dampak positif”, yaitu nafsu mereka tersampaikan. Tetapi secara umum, tidak ada dampak positif bagi pelaku perbuatan mesum di warnet.
-Dampak negatif bagi warnet
- Secara tidak langsung, warnet ini sudah “berdosa” karena menyediakan tempat untuk orang-orang berbuat dosa. Pemilik warnet ini membiarkan adanya perbuatan dosa di warnetnya, sehingga pemilik warnet ini telah berdosa.
-Timbul cap buruk dari masyarakat apabila kabar mengenai perbuatan mesum yang banyak terjadi di warnet ini sudah tersebar luas. Bila warnet ini dinilai sudah berubah menjadi tempat maksiat, masyarakat bisa saja bertindak untuk menyegel keberadaan warnet yang meresahkan ini.
-Orang-orang yang memang ke warnet untuk mencari info, biasanya akan malas jika harus berkunjung ke warnet mesum seperti ini. Bisa saja imagenya ikut tercemar hanya karena sudah berkunjung ke warnet ini, walaupun ia tidak berbuat mesum.
-Dampak negatif bagi pelaku
-Biasanya melakukan perbuatan mesum di warnet tidak hanya sebentar, bisa sampai berjam-jam. Bagi pelaku yang melakukan perbuatan mesum, hal ini tentu bisa dikatakan membuang-buang waktu. Bagi para pelajar, waktu yang mereka buang ini sebenarnya bisa dipakai untuk belajar atau melakukan kegiatan-kegiatan positif yang lainnya seperti bersosialisasi dengan teman-teman, berolahraga, membantu orang tua dan lain-lain.
-Berbuat mesum di warnet juga bisa menyebabkan berbagai penyakit. Bila mereka terlalu lama di warnet, mungkin saja mereka menjadi lupa makan, sehingga bisa terserang penyakit maag.
Selain itu bagi perempuan yang suka diremas-remas payudaranya harus lebih berhati-hati. Meremas payudara dapat menyebabkan payudara membesar, apalagi bila yang meremas adalah orang lain yang bisa merangsangnya. Tapi kebanyakan payudara yang suka diremas ini ukurannya menjadi berbeda antara kiri dan kanannya, atau bisa dikatakan terjadi perbedaan ukuran payudara yang cukup tampak. Payudara yang diremas seenaknya dan tidak dengan aturan bisa memicu timbulnya kanker payudara suatu saat nanti. Yang paling parah tentu saja kemungkinan terjadi penularan penyakit kelamin bila mereka melakukan hubungan seks di warnet.
-Melakukan perbuatan mesum di warnet tentunya akan menambah dosa mereka. Memang pada saat sudah dikuasai hawa nafsu akan dengan mudahnya lupa bahwa yang mereka lakukan itu adalah suatu perbuatan dosa. Dosa mereka juga tergantung sampai tingkat sejauh mana mereka melakukan perbuatan mesum ini. Semakin parah perbuatan mesum yang mereka lakukan, tentunya dosa mereka juga akan semakin besar.
 
HUBUNGAN DENGAN IMAN
Sebagai seorang anak Allah (atau dua orang insan yang bertemu karena kasih Allah) kita sudah sepatutnya harus berjalan sesuai dengan jalan kasih Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus meskipun mengasihi orang-orang berdosa, Dia tetap tidak setuju dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Maria Magdalena yaitu berbuat zinah dan spesifiknya bertindak sebagai seorang pelacur.
Meskipun tindakan ini bisa digolongkan sebagai tindakan kasih, namun tindakan ini belum didasari oleh persekutuan yang sah antara dua insan tersebut dengan Allah Bapa, sehingga tindakan ini belum patut dilakukan oleh mereka. Secara lebih spesifik akan dijelaskan dalam point argumen mengenai perintah Allah yang ke enam yakni dilarang berbuat zinah.
Secara umum iman katholik menolak mengenai tindakan free-sex. Jadi secara iman katolik, hal ini sudah tidak dapat diterima dan bukan hal untuk di main-mainkan oleh kawula muda yang seharusnya akan menjadi penerus anggota-anggota gereja pada nantinya pada masa depan nanti sesuai dengan tugas mereka sebagai seorang generasi penerus gereja.
Apabila moral mereka tidak benar, moral gereja juga pada akhirnya akan tergerus pula oleh tindakan mereka, karena sesungguhnya gereja adalah sebuah institusi yang bergerak dalam masyarakat dan disusun oleh masyarakat itu sendiri. Dengan unsur penyusunnya saja tidak benar, hal ini dapat berpengaruh pada nilai-nilai gereja pada akhirnya.
Iman gereja secara keseluruhan diukur dari anggota-anggota penyusunya. Meskipun dalam hal ini kita membawa ke dalam kasus yang sangat ekstrim dan tidak diikuti oleh seluruh anggota gereja, namun sesuai dengan kata pepatah dari bahasa Indonesia yaitu gara-gara nila setitik rusak susu sebelangga, jadi tindakan dua atau lebih anggota gereja yang salah bisa juga berpengaruh terhadap keseluruhan iman gerejanya.
Dalam konteks iman gereja, kita pastinya akan juga membicarakan mengenai ayat-ayat dalam kitab suci dan keputusan gereja (paus) secara umum mengenai hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh umat katolik. Setelah kita sudah membicarakan dasar dari dalam kitab suci, sekarang kita akan memasuki konsep yang sudah ada dalam ajaran gereja katolik.
Hubungan seks sebelum menikah dianggap sebagai pelecehan nilai kemanusiaan itu sendiri oleh pihak gereja katolik, kerena mereka bertindak layaknya dua ekor hewan yang tidak mengetahui dan memiliki aturan yang jelas dalam melakukan segala sesuatu.
Harga diri manusia yang dibicarakan oleh gereja ini hanya dapat dipenuhi apabila tindakan ini dilakukan kepada pasangan mereka yang sah secara gereja dalam hal ini sudah resmi menikah. Secara pasangan muda-mudi yang kita sedang kita bicarakan ini belum menikah maka tindakan yang sedang mereka lakukan ini telah melawan



JANGAN BERZINAH
Semenjak zaman Musa, Allah telah memberikan 10 perintahNya yang tertuang didalam 2 batu. Disitu terdapat perintah Allah yang paling utama bagi orang Israel. Salah satu poin yang terdapat didalam 10 perintah Allah adalah jangan berzinah, tepatnya didalam perintah yang ke enam. Dari perintah ini dapat kita lihat bahwa hal ini memang sudah sangat dilarang oleh Allah sendiri dan kita sudah sepatutnya harus patuh.
Kenapa harus dilarang? Mungkin ada orang yang bertanya demikian. Secara logis, dapat dilihat bahwa perbuatan zinah menganggu institusi yang sudah di dirikan oleh Allah, yakni istitusi pernikahan yang ilahi yang juga sekarang ini oleh gereja Katolik diakui sebagai salah satu sakramen dalam agama Kristen Katolik. Kesucian institusi pernikahan akan ternodai, karena akan memicu tindakan tidak setia kepada pasangannya. Ini adalah seperti semacam penguatan terhadap institusi pernikahan itu.
Definisi perzinahan secara luas sendiri bukan hanya perselingkuhan, namun juga telah diperluas menjadi hubungan dua insan yang belum sah menikah dalam gereja, sehingga dianggap telah melanggar kewenangan Tuhan dalam menyatukan dua hati dan pribadi yang berbeda dan jika dihubungkan dalam kasus kami yaitu warnet mesum dimana dua pelajar atau pasangan muda-mudi melakukan hal yang tidak pantas di area warnet.
 
SOLUSI
Keberadaan warnet mesum memang mulai meresahkan. Bila situasi ini terus berlanjut, masa depan bangsa dan pribadi itu sendiri akan semakin suram. Namun sebenarnya, solusi untuk mengantisipasi hal ini tidaklah terlalu sulit. Ada 2 garis besar ide untuk mengantisipasi perbuatan mesum di warnet.
1. SOLUSI MORAL
Sesuai namanya, solusi moral adalah menanamkan suatu pandangan bahwa berbuat mesum di warnet sudah termasuk melakukan suatu dosa. Hal ini dapat dilkakukan dengan cara:
- Penanaman pendidikan moral oleh keluarga, terutama sejak dini
- Peningkatan beribadah dan pendekatan diri kepada Tuhan
- Kesadaran untuk tidak tergoda melakukan perbuatan mesum
- Mencari lingkungan pergaulan yang sehat dan tidak bergumul dengan orang-orang yang seperti itu
2. SOLUSI TEKNIS
Solusi teknis lebih berupa tindakan-tindakan yang bisa dilakukan suatu warnet untuk mencegah adanya perbuatan mesum dan kesan mesum pada warnet tersebut, di antaranya:
- Membuat bilik yang cukup terbuka, sehingga dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya perbuatan mesum
- Kesadaran pernjaga warnet untuk melakukan survei dan tidak segan menegur mereka yang melakukan perbuatan mesum, tidak semata hanya mengejar keuntungan material.
- Dipasangnya suatu kamera pengawas / CCTV agar bisa dipantau ada tidaknya perbuatan mesum ini
 
KESIMPULAN
Keberadaan warnet mesum ini merupakan fenomena baru yang mulai berkembang di kalangan remaja. Namun jika ditinjau ulang, tidak ada keuntungan melakukan hal mesum di warnet, yang ada hanyalah dampak negatif. Apalagi berbuat mesum adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Tuhan.

Reeeaaaddd Mooorrreee ^_^/......

Sabtu, 15 Agustus 2009

Ada yang punya jas???

Luach..nasibku apes banget.Hari sabtu baru bisa ambil jas almamater,eh hari selasanya udah upacara penerimaan Mahasiswa Baru.Kalo ukurannya pas sih gpp,tp Q ambilnya 5L buux.... Dengan tinggi 180cm & berat 60kg dikasih jas 5L???aje gile.Tapi ya mw gmn lagi,gag ada yang ukuran panjang kengannya pas sih^_^,terpaksa 5L.Gag bisa kebayang kalo Q harus pake tuh jas waktu upacara,ntar pasti keliatan ky teletubbies dah.Aduh biyung...

Adakah mahasiswa seniorku di UGM yg bisa minjemin Q jas ukuran XXL ato 4L????????pasti Q balikin kug.Daripada harus pake 5L :'(

Reeeaaaddd Mooorrreee ^_^/......